INDONESIA DI ANTARA KEBERAGAMAN DAN ANCAMAN TERORISME

0

 

Diskursus mengenai terorisme dan toleransi akhir-akhir ini menjadi perhatian khusus masyarakat Indonesia. Hal ini tidak terlepas dari fenomena teror dan pengeboman yang terjadi berturut-turut di beberapa Gereja dan Polrestabes Surabaya, Rusun Wonocolo di Sidoarjo serta Polda Riau. Masih kaget dan dirundung duka dengan serangkaian aksi terorisme yang terjadi, pada aksi kali ini masyarakat semakin dibuat miris dan tidak percaya dengan kenyataan bahwa pengeboman yang terjadi melibatkan satu keluarga serta membawa anak-anak mereka yang akhirnya meninggal pada aksi tersebut. Masyarakat bertanya-tanya apa yang dipikirkan oleh orang tua yang tega meledakan pengeboman bunuh diri dengan membawa anaknya? Fakta yang didapat, pelaku pengeboman merupakan ekstrimis Islam garis keras, hal ini dapat diketahui dari pola aksi yang terjadi yaitu melakukan penyerangan terhadap rumah ibadah dan petugas kepolisian.

Disadari atau tidak, substansi dari timbulnya peristiwa-peristiwa di atas tidak lain adanya perbedaan baik dalam beragama, keyakinan, berpendapat bahkan berpolitik. Apalagi faktanya, sekarang ini kita hidup di zaman yang multietnis dan multikulturalisme, sehingga perbedaan-perbedaan tersebut tidak dapat terhindarkan. Lebih lanjut, multikulturalisme yang ada sekarang ini merupakan keniscayaan yang harus disadari dan disikapi secara dewasa oleh setiap individu maupun kelompok.

Interaksi sosial dan keberagaman adalah dua bagian yang tidak dapat dipisahkan. Hal ini dikarenakan Indonesia merupakan negara kepulauan yang memiliki wilayah yang luas, terdiri dari ribuan pulau, golongan, budaya, ras, suku, bahasa maupun agama. Secara kodrat manusia merupakan makhluk sosial dimana manusia tidak dapat hidup sendiri, maka kontak antar suku, etnis, maupun antar agama yang ada di Indonesia sudah tentu tidak dapat dihindari lagi. Untuk menjaga kemajemukan tersebut toleransi menjadi kunci indahnya kebhinekaan dan kedamaian yang ada di Indonesia

Dalam keberagaman yang demikian, semua individu dituntut untuk hidup bersama dalam sebuah tatanan sosial yang memaksa satu sama lain saling berhubungan dan berinteraksi. Keadaan ini juga didorong dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang ditandai dengan semakin terbukanya seseorang mendapatkan akses komunikasi dan informasi. Seiring perubahan masyarakat dari era konvensional menjadi era digital dan sosial media membuat seseorang mampu menembus batas ruang dan waktu, sehingga interaksi satu sama lain tidak dapat terelakan.

Proses pertemuan dan interaksi antar masyarakat yang berbeda kadang kala berjalan mulus, namun kadang kala juga proses tersebut berjalan tidak mulus terdapat gesekan-gesekan yang menimbulkan terjadinya konflik, sehingga mengakibatkan kerugian dari masing-masing pihak. Kegagalan untuk saling membangun kepercayaan dan kesadaran akan hak serta kewajiban antar masyarakat yang berbeda dalam kehidupan bersama kerap mendorong terjadinya konflik yang berbau suku, ras, agama dan antar kelompok (SARA).

Dalam rangka menjaga keutuhan dan persatuan dalam masyarakat maka diperlukan sikap saling menghormati dan saling menghargai, sehingga gesekan-gesekan yang dapat menimbulkan konflik sosial dapat dihindarkan. Selain itu untuk menyikapi semua kemajemukan yang ada diperlukan sifat arif dalam menerima perbedaan dan bersikap toleransi dalam masyarakat multikulturalisme.

Dalam pembukaan Indonesia Undang-Undang Dasar 1945 Pasal 28 E Ayat 1 dan 2 disebutkan bahwa “Setiap orang berhak memeluk agama dan beribadat menurut agamanya, memilih pendidikan dan pengajaran, memilih pekerjaan, memilih kewarganegaraan, memilih tempat tinggal di wilayah negara dan meninggalkannya, serta berhak kembali. Setiap orang berhak atas kebebasan meyakini kepercayaan, menyatakan pikiran dan sikap, sesuai dengan hati nuraninya”. Berdasarkan Pasal tersebut, sudah seharusnya kita sebagai warga negara menjunjung tinggi sikap toleransi antar umat beragama dan saling menghormati antar hak dan kewajiban masing-masing yang ada diantara kita demi keutuhan Indonesia.

Perbedaan dan keberagaman yang ada biarlah tetap menjadi warna dan kekayaan bangsa Indonesia. Kalaupun ada orang-orang yang ingin memaksakan untuk menghilangkan perbedaan yang ada, mereka hanyalah segelintir orang yang “gagal paham” akan indahnya hidup dalam keberagaman, toh pada dasarnya orang-orang yang hidup di negara ini masih bersaudara. Perbedaan ada bukan alasan untuk menjadi pemecah belah yang membuat hidup menjadi susah. Bukankah tanpa perbedaan dan warna, hidup kita akan membosankan? Oleh karena itu, sudah seharusnya mari kita rajut kembali Kebhinekaan, rekatkan kembali rasa persaudaraan dan usir jauh-jauh paham yang ingin merampas ideologi pancasila serta kelompok yang ingin merebut kehidupan damai kita. Ini bukan hanya tugas Presiden, Polisi, maupun TNI, namun ini tugas kita semua sebagai bangsa Indonesia. Kalau bukan kita yang menjaga siapa lagi? karena ini adalah Indonesiaku, Indonesiamu dan Indonesia kita semua.

 

Jabat Erat Rangkul Dekat Tetap Kuat Bangsa Indonesia, Kami Tidak Takut Teroris

Share.

About Author

Leave A Reply